Akhirnya Naik Gunung Lagi (MT Fansipan)

Akhirnya saya bisa naik gunung lagi. 
Memangnya kapan terakhir kali naik gunung? Surprisingly, terakhir kali naik Gunung Rinjani itu tahun 2016 alias sudah sepuluh tahun lalu, sebelum saya menikah.  
So, jangan bayangkan cerita saya sampai ke puncak Fansipan seperti pendakian saya di jaman muda dulu ya, karena pendakian kali ini tidak saya lakukan dengan hiking.
Gunung Fansipan yang merupakan puncak tertinggi di Semenanjung Indochina dengan ketinggian 3.147 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang dijuluki sebagai atap Indochina, ketinggiannya kurang lebih sama dengan Gunung Merbabu di Jawa Tengah. Kalau ditempuh dengan hiking butuh waktu sekitar 2 hari 1 malam dengan jalur trek yang pemandangannya sangat cantik.
Lalu kenapa tidak memilih jalur hiking? Alasan utamanya tentu saja karena proses mendaki butuh kesiapan fisik dan stamina yang prima, sementara saya sudah malas membayangkan latihan fisik yang harus dilakukan sebelum mendaki.

Pilihan saya untuk pendakian ke Gunung Fansipan kali ini adalah dengan naik kereta dan cable car atau kereta gantung sampai ke puncak dengan biaya 732k tetapi worth it menurut saya.
Paket pendakian ke Gunung Fansipan saya beli dari aplikasi Klook jauh hari sebelum keberangkatan, karena takut kehabisan. 
Kenapa tidak membeli langsung di Stasiun Sapa? Sejujurnya saya malas dengan antriannya. 

Untuk rute perjalanannya dari Stasiun Sapa sampai puncak Gunung Fansipan, kira-kira seperti ini :

1. Dari Hotel menuju Stasiun Hoang Lien atau Stasiun Sapa
  • Naik Kereta Funicular Muong Hoa (kereta monorel) yang berangkat dari Sun Plaza (Stasiun Sapa) di pusat kota Sapa menuju Stasiun Fansipan. Kebetulan saya menginap di My Boutique Hotel yang letaknya tidak jauh dari Sun Plaza.
  • Perjalanan naik kereta funicular memakan waktu sekitar 10 menit melewati lembah, sawah terasering, dan pemandangan pegunungan yang indah banget.
2. Stasiun Fansipan 
  • Dari Stasiun Fansipan kita naik Kereta Gantung Fansipan (Cable Car).
  • Satu kabin kereta gantung bisa memuat sekitar 30–35 orang.
  • Durasi perjalanan sekitar 20 menit menanjak di atas jurang, lembah, dan hutan. Karena saya fobia ketinggian, perjalanan 20 menit terasa jauh lebih lama. 
3. MT Fansipan
  • Setelah tiba di Stasiun Fansipan, saya menuju stasiun puncak (Doen Station) untuk naik kereta funicular ke Fansipan Summit. Karena kalau mendaki sekitar 600 anak tangga dengan berjalan kaki rasanya saya akan encok.
  • Sebenarnya di area puncak, kita juga bisa mengunjungi kompleks wihara dan kuil, selain tiang bendera Vietnam. Tetapi karena saya kurang beruntung, datang di akhir bulan Agustus yang notabene peralihan musim penghujan ke musim gugur, dimana Puncak Fansipan dipenuhi kabut jadi saya hanya foto-foto di tiang Puncak MT Fansipan.

Sebenarnya pemandangan dari Puncak Fansipan saat cerah itu cantiknya luar biasa. Tetapi karena tertutup kabut, foto saya pun jadi remang-remang seperti berada di gerbang dunia lain.

Awalnya saya malah hampir menyerah dan tidak ingin melanjutkan sampai ke Puncak Fansipan. Saya tidak kuat dengan anginnya yang kencang dan menusuk-nusuk kulit. Padahal jaket yang saya pakai sudah windproof dan anti air. Kaos yang saya pakai di dalam jaket pun bahan bagian dalamnya terbuat dari fleece yang hangat. Jadi, biarpun suhunya masih sekitar 10 sampai 15 derajat, mirip-mirip suhu AC, tetapi rasa dinginnya terasa lebih menusuk kulit karena hembusan anginnya yang kencang.
Saran saya, kalau kalian gampang masuk angin mendingan persiapkan diri dengan bawa tolak angin dari Indonesia deh.

Setelah turun dari Puncak Fansipan, saya langsung memesan Pho ayam panas. Pho ini disajikan dengan porsi yang besar, lengkap dengan sayuran. Menurut saya, Pho disini berbeda dengan Pho yang saya makan di Bandara Hanoi. Mungkin karena disajikan dengan kuah yang sangat panas dan dimakan saat kondisi tubuh saya sedang kedinginan, tetapi mungkin juga karena kuahnya memang lebih kaya rempah.

Ada sedikit drama ketika saya meminta cabe rawit, sepertinya mereka tidak terbiasa dengan konsumen yang meminta add on cabe rawit. Jadi mereka kebingungan sambil menunjuk toples sambal. Setelah berkali-kali dijelaskan barulah mereka mengerti yang saya maksud. Permasalahan bahasa juga menjadi salah satu kendala karena rata-rata mereka tidak terlalu paham Bahasa Inggris.

Saya juga mencoba coconut coffee yang rasanya bold dan harum kelapanya kuat banget. Menurut saya coconut coffee di Fansipan Sapa ini yang terenak dan rasanya paling otentik, bahkan dibandingkan dengan coconut coffee Starbucks yang saya coba di Bandara Hanoi - yang harganya jauh lebih mahal. Coconut Coffee di Fansipan Sapa ini harganya 99k VND, sementara di Bandara Hanoi harganya 150k VND. 

Teman saya memilih untuk mencoba Oolong Jasmine Milk Tea di Kedai teh Phe-La. Porsinya banyak banget, dan rasa tehnya pekat sekali. Enak sih menurut saya yang bukan pecinta teh. Meskipun rasanya cukup pekat, tetapi perpaduan dengan susu dan aroma jasmine-nya sangat pas di lidah. Jadi after taste-nya tidak terasa berlebihan, tidak pahit. 

Untuk cerita keseruan lainnya selama liburan di Sapa, Vietnam kemarin akan saya tulis di artikel yang lain ya guys. See youuuuu.


No comments